4
Mendayagunakan Porang di Groboganby Keta Keteon.Mendayagunakan Porang di GroboganSesekali waktu, cobalah bertanya pada anak-anak generasi sekarang, apakah mereka mengenal dalam bahasa Jawa tanaman Porang atau walur. Kemungkinan sebagian besar tidak. Porang yang dalam bahasa latin Amorphophallus Onchophyllus berasal dari famili Araceae. Tanaman inilah yang digunakan untuk mengusir rasa lapar masyarakat Grobogan ketika musim paceklik pangan di era penjajahan sampai tahun 70-an. Waktu itu [...]

Sesekali waktu, cobalah bertanya pada anak-anak generasi sekarang, apakah mereka mengenal dalam bahasa Jawa tanaman Porang atau walur. Kemungkinan sebagian besar tidak. Porang yang dalam bahasa latin Amorphophallus Onchophyllus berasal dari famili Araceae.

Tanaman inilah yang digunakan untuk mengusir rasa lapar masyarakat Grobogan ketika musim paceklik pangan di era penjajahan sampai tahun 70-an. Waktu itu daerah Grobogan merupakan daerah paceklik dan menelan ribuan korban.

Tanaman ini tumbuh liar di hutan-hutan dan untuk memprosesnya menjadi makanan layak saji pada waktu itu sangat rumit dan melelahkan. Tapi di balik semua itu, ketika zaman telah berubah, kini porang menjadi komoditas primadona yang diminati
Masyarakat Sekitar Hutan Grobogan adalah kabupaten terluas kedua setelah Cilacap, yakni 1.875,85 km persegi dan mempunyai hutan yang luas, sekitar 64.000 hektare. Hutan di daerah Grobogan sejak reformasi bergulir telah porak-poranda dijarah oleh masyarakat sekitar hutan. Tetapi berkah kerja keras Perhutani dan masyarakat sekitar hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) telah berupaya untuk mengembalikan kondisi hutan seperti sedia kala, walaupun hal tersebut membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Kendala yang terjadi sekarang, masyarakat binaan Perhutani hanya bisa menggarap lahan pinjamannya dalam waktu 3-5 tahun. Setelahnya lahan telah rimbun dan tidak produktif. Hal itu karena tanaman utama dari Perhutani semisal jati, sonokeling dan mahoni telah besar. Tanaman yang ditanam masyarakat adalah jagung dan beberapa palawija lainnya. Walaupun tanaman ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi, namun petani hanya menikmati beberapa tahun saja.

Setelah selesai menggarap lahan tersebut biasanya petani berusaha menjarah hutan kembali dan salah satu tujuannya adalah membuat lahan pertanian yang baru. Alternatif yang diberikan penulis adalah adanya budi daya porang setelah lahan yang dikelola petani tidak lagi produktif.
Porang sebagai Alternatif Budidaya tanaman ini tidaklah sulit. Penanaman porang dilakukan pada musim hujan. Tanaman pertama baru dapat dipungut hasilnya pada umur tiga tahun. Dan, berikutnya tidak perlu menanam lagi karena di lokasi tersebut akan tumbuh tanaman baru yang berasal dari biji (bubil) dari umbinya (generatif) yang didapat pada pangkal cabang daun yang sudah tua; anak umbi di dalam tanah. Setelah itu tinggal melakukan pengaturan jarak tanam serta pemeliharaan.

Itung-itungannya sungguh fantastis mengingat biaya produksi yang hampir nol rupiah dan harga jual basah saat ini adalah Rp 1.000. Yang chip/ telah diiris tipis mencapai Rp. 6.000. Berat porang sendiri rata-rata 2 kg/ buah. Tingkat produktivitas untuk satu hektare, apabila dirawat dengan baik, akan mencapai 8 ton. Apabila dirawat secara asal-asalan hasilnya 4 ton.

Andai saja seperempat dari luas hutan yang ada di Grobogan ditanami. Taruhlah hasil rata-rata 6 ton X 16.000 ha X Rp. 6.000 maka akan muncul angka yang fantastis, yakni 576 juta pertahun. Tentunya nominal ini tidaklah kecil bagi masyarakat sekitar hutan yang umumnya masyarakat miskin.

Dibandingkan dengan hasil masyarakat menjarah hutan yang hasilnya hanya bisa dinikmati sekali saja. Dan dengan segala risiko yang harus ditanggungnya, rasanya sebanding bahkan lebih baik. Budi daya tanaman porang ini bisa dinikmati setiap tahunnya.

Hal ini juga digunakan untuk mengikis pemikiran pragmatis masyarakat yang tidak begitu memikirkan nasib anak cucunya nanti karena telah membabat habis hutan. Padahal hutan adalah mata pencaharian dirinya dan yang akan diturunkan pada anak cucunya kelak.
Manfaat Porang Terus siapa yang berminat membelinya? Negara tujuan ekspor utama tanaman ini adalah Jepang. Di negara sakura sana porang diolah menjadi makanan konyaku (sejenis tahu) dan shirataki (sejenis mie). Tanaman ini memiliki kandungan glukomannan dan termasuk polisakarida. glukomannan ini mengandung rendah kalori, yakni sekitar 3 Kkal/100 g bahan dan berserat tinggi. Selain sebagai makanan ternyata glukomannan juga digunakan sebagai bahan baku perekat kertas, cat dan bahan mengilapkan kain seperti katun/wol, kosmetik, negative film, isolasi, pita seluloid bahkan sampai bahan peledak.

Porang ini apabila diolah menjadi makanan cocok untuk para penderita diabetes karena mengenyangkan, mengandung banyak serat dan rendah kalori. Tentunya ini menjadi kabar gembira bagi dunia kesehatan. Di samping untuk penderita diabetes makanan, ini juga cocok untuk makanan kesehatan karena rendah kalori sehingga tidak menyebabkan kegemukan.

Kendala justru datang dari eksportir. Minimnya jumlah eksportir porang dikhawatirkan tercipta ketergantungan pasar. Akibatnya, kendali harga ada di tangan para eksportir. Tetapi kendala ini tentunya juga menjadi peluang besar bagi masyarakat, khususnya masyarakat Grobogan untuk menjadi eksportir yang lebih kompetitif.

Kerja sama antara Perhutani dan masyarakat sekitar hutan sangat diperlukan agar program ini berhasil. Perhutani sebagai pengelola hutan wajib menjadikan mandiri masyarakat sekitar hutan mandiri dan tidak lagi menjarah hutan karena desakan ekonomi.

Related Posts

4 Responses

  1. April 23, 2011 at 18:45raka

    ki sing nulis sopo ki? :ngacir2

  2. April 24, 2011 at 12:02anjrah2006

    tekun yo,,

  3. May 5, 2011 at 09:48Magnetic Therapy

    Hello, you used to write great, but the last few posts have been kinda boring… I miss your great writingsPast several posts are just a bit out of track! come on!

  4. Author

    June 14, 2011 at 08:54adamhawa

    keta-kete

Leave a Reply